Monday, September 14, 2009

Kosong

I guess every choice we make in life is half chance. Because we'll never know...

Minggu kemaren aku bener-bener terombang-ambing. Pusing. Bingung. Hampa. Kosong. banyak sekali mimpi-mimpi yang pingin aku wujudkan di akhir tahun ini. Ambisius, sepertinya...tapi itulah aku, mungkin memang sudah takdir kalau aku terlahir sebagai orang yang banyak maunya. Walaupun..kadang pingin jadi orang yang biasa-biasa wae dan ga banyak ambisi. Rasanya hidup bisa lebih tenang.....fiuhhhh

Pertama, aku pingin banget pulang. Pingin menyentuhkan dan menjejakkan kaki di Indonesia. Pingin menghirup polusi khas Jakarta, atau hujan debu khas Malang. Pingin ketemu sama Ryo, and the rest of my family. Demi mencapai keinginan mulia itu, aku telah mendedikasikan summer 2009 untuk mendesain penelitian seputar bahasa Jawa, yang pastinya akan jadi alasan sakti supaya aku bisa pulang.

Kedua, aku pingin dapet Original Work Grant dari GSS OU. Jadi aku harus ngebut menyelesaikan proposal yang due Sept 21. Lumayan untuk menutup biaya tiket pulang yang kebetulan juga lagi murah (ada promosi dari China Airlines).

Ketiga, aku pingin nulis sesuatu yang "wah" yang bisa di presentasikan disini. Bingung milah milih topik yang mau diambil. Gak jelas arahnya, tentunya karena sifat maruk-ku, aku tertarik pada banyak hal.

Kisah gila dimulai di akhir minggu, saat-saat ketidak jelasan dimulai. Dr. Oshita, apparently, gak mengirim rekomendasi ke Fulbright. Jadilah aku menunda pembelian tiket. Ingin minta pendapat dari IIE, malah mendapat jawaban agak ketus dari advisor baruku. Di saat yang sama, perutku mules gak jelas, padahal kudu tetep beribadah puasa.

Hari Minggu, ternyata mas Alex bilang DS ku sudah tervalidasi, jadi sebenernya aku bisa langsung pulang. Tapi setelah lama mikir, ternyata kata "pulang" membuat aku mikir seribu kali. Terlalu banyak yang harus diselesaikan, dan dengan beban quarter ini yang seabrek abrek. mungkin aku ga bakal bisa ngejar semuanya dalam waktu 3 bulan.

Kemudian aku dapet feedback dr Dr. Bell, dia dengan gamblang dan jelas bilang bahwa proposalku terlalu AMBITIOUS. See? Jelas dan lugas. Rasanya memang harus ganti topik. Which is more doable. Semuanya juga bilang gitu. Mas Alex, Ryo, Mama, M. Wid, M. Mila, n Dr. Bell helped me making sense out of what I want and need to do.

Sekarang sudah agak lega. tapi perasaan itu tetep melekat.
Masih tetep gak terima, padahal sudah dekat banget....rencananya 3 bulan lagi....
sudah bisa menatap punggung Gunung Kawi yang nampak kayak Putri Tidur, sudah bisa makan Nasi Padang di restoran Padang yang terletak di depan bak sampah gedhe.
Yah, mungkin memang sudah takdir aku harus tinggal disini selama 2 tahun tanpa pulang.