Saturday, December 19, 2009

Goedemorgen

Selamat pagi! selamat pagi kepada dunia yang putih dan kelabu. Akhirnya, salju keduapun turun ke bumi Athens. Setelah dua minggu lebih udara dingin tanpa tanda-tanda akan turunnya benda putih dan dingin yang bernama salju, satu-satunya hiburan menarik di musim dingin.

Menyambut liburan Natal, kota ini semakin sepi saja rasanya. Banyak mahasiswa OU yang pulang ke kampung halaman masing-masing atau pergi berlibur kemanapun-kemana saja asal bukan Athens. Satu-satunya ruang berkumpul yang paling menarik untuk kita--Alden Library-- telah mendepak para mahasiswa keluar sejak kemarin pukul lima sore dan mendeklarasikan dirinya untuk menutup diri sampai tanggal 28 Desember nanti. Pun juga Ping Center--theme park tempat banyak mahasiswa kesepian mengolah jiwa dan raga--telah mengusir kita keluar tepat pukul 9 malam. Lewat corong elektronik, seorang mahasiswa part-timer berteriak penuh semangat, "All areas is nooowww CLOSED, C-L-O-S-E-D!!". Agak aneh memang kenapa dia harus berteriak sekuat tenaga. Tapi mungkin itu adalah jeritan dari hati, menandakan betapa bahagianya ia menyambut liburan Natal. Oh, sepenting itukah Natal?

Selama aku masih di Malang, Natal tak terlalu berbeda seperti hari-hari biasanya. Hanya saja kami sekeluarga bisa bangun siang dan mendengar lagu-lagu Natal di tivi. Sore harinya, barulah mama akan memaksa papa untuk ikut bergabung dalam silaturahmi keluarga dan mengunjungi pak-de dan omku yang beragama Nasrani. Ritualnya, biasanya keluarga Nurhadi ini akan menjemput Yangtri dan Yangkong Jalan Ambon dengan menggunakan mobil (untungnya mobil kita selalu muat--mulai dari Daihatsu Hijet, Panther 97, lalu Taruna'00) dan langsung meluncur ke rumah Opa Tenzer, mantan tentara Jerman yang juga mertua Om Heru.

Rumah Opa Tenzer secara unik aku asosiasikan dengan Natal, karena sepertinya keluargaku hanya berkunjung kesana bilamana Natal tiba. Rumahnya ada di daerah Kaliurang, di antara deretan rumah-rumah besar dengan arsitektur Belanda. Besar dan indah, tepat seperti rumah impianku. Pagarnya putih dan halamannya luas, dianaungi dua pohon besar-entah pohon apa-yang jelas bukan Beringin. Namun tetap saja aku merasa ngeri untuk masuk, karena mereka punya anjing besar, yang selalu menyalak dan mengendus. Alhasil, aku selalu memaksa papa atau om Teddy untuk menggendongku dan menyelamatkanku dari endusannya. Kalau mereka menolak dengan alasan aku sudah terlalu besar dan berat, aku hanya bersembunyi di balik Yangkong sambil menggumamkan do'a "summum bukmum umyun farhum layar ji'un", yang sudah ribuan kali terbukti sangat manjur.

Setelah berhasil duduk manis di ruang tamu keluarga Tenzer yang gelap dan berlangit-langit sungguh tinggi, kami akan tertawa tawa sambil memandang lampu-lampu di pohon Natal plastik dan menikmati kue tart manis yang disuguhkan Oma Tenzer. Sesudahnya, kami akan mampir ke rumah Om Djoko dan Om Heru. Melakukan hal yang sama, mengobrol dan tertawa tentang apa saja. Mungkin tentang kenakalan masa kecil mereka, atau masa kecilku dan Devi, atau tentang keanehan papa, kepiawaiannya mencukur rambut Om Heru dengan gunting bertangan satu, atau menertawakan Yangkong dan sepasang sandal beliau yang berlainan dan njomplang.

Mungkin di sekitar tahun 2006, kami tidak melakukan ritual tahunan itu, dan menggantinya dengan makan siang bersama di rumah Om Djoko di Poharin (Pondok Harapan Indah), perumahan sederhana yang terletak tidak jauh dari rumah nyentrik kami di Terusan Wonogiri. Mengendarai dua sepeda motor, kami berangkat kesana setelah perdebatan trivial dengan Papa, yang tidak mau disebut merayakan Natal. Padahal kan makan siang dengan keluarga besar itu menyenangkan, masak iya sih tidak mau ketemu Yangtri dan Yangkong yang sudah jauh-jauh dari Jalan Ambon datang dengan menumpang angkot G-M-L, dan melintasi trayek paling sumpek di Malang. Natal tahun itu terasa berkesan sekali, entah mengapa. Mungkin karena hidangan Manado yang terasa sedap, ikan roa yang hanya ada di danau-danau Manado, atau mungkin juga karena karaoke BeeGees yang menghasilkan video duet maut lengkingan (jeritan) fals ala Renzy dan Devi. Yang jelas siang itu papa melancarkan protesnya dengan tidur lelap di sofa ruang tamu mereka. Aneh.

Natal 2008 lain lagi. Aku sedang menghabiskan winter break di Philadelphia, the City of Brotherly Love bersama seorang kawan. Rencananya kami akan mencoba memasak sesuatu yang lezat untuk hidangan dinner. Eh, ternyata kebanyakan supermarket di dekat rumah tutup karena liburan Natal. Setelah berjalan beberapa blok ke arah Center City, yang kami jumpai hanyalah kota mati, aneh juga sebuah kota besar bisa nampak seperti Athens. Yang aku ingat, hanya beberapa gelintir orang yang rela/ terlalu bodoh untuk menghabiskan Natal dengan menyusuri dinginnya Market Street, Walnut Street, dan sekitarnya hanya untuk mencari toko yang buka. Ajaib, setelah menahan lapar sekian lama kami bagai melihat surga ketika melihat tanda "OPEN" bersinar dari salah satu toko kecil di ujung jalan itu. Surga yang berbentuk Chinese Restaurant for Vegetarians! 安全圣诞!!

Kali ini, aku akan menghabiskan Natal di daerah Barat Amerika-The West Coast. Dalam perjalanan Dono Kasino Indro jilid 3 (Arin, Renzy, Mondi) berikut ini, kami akan menyusuri California State sepanjang San Fransisco, San Diego, dan L.A. Memang yang merayakan Natal hanya Mondi dan pacarnya, dan Mondi sudah menegaskan bahwa dia tidak peduli jikalau pun malam Natalnya harus dilewatkan di atas mobil di sepanjang highway. Tapi tetap saja aku penasaran, akan seperti apa pengalamanku tahun ini.

1 comments:

depi said...

hahahahahahahahha...
sangat indah dan lengkap....
coba anggota keluarga yg lain suruh membaca dong.....