Sunday, January 17, 2010

Sang Pemakan Daging

Mungkinkah saya yang telah dari kodratnya sana adalah seorang omnivora ini tiba-tiba menahbiskan diri menjadi seorang vegetarian? dan melupakan bakso? Tidak tahu, dan pun tulisan ini tidak akan memberikan jawaban yang jelas apakah saya akan bisa menjadi vegetarian atau tidak. Mungkin hanya akan berisi goresan-goresan tak jelas, tapi itu pun baik.

Saya akan memulai dengan sebuah kisah dimana saya masih kecil, mungkin waktu itu berumur sekitar lima atau empat tahunan. Tidak cukup kecil untuk bisa mengingat beberapa kejadian dalam masa masa awal kehidupan. Saya kecil tidak terlalu doyan daging. Rasanya amis, dan alot, apabila dikunyah ada sensasi memuakkan yang terkirim ke otak. Enggak enak, eneg, dan agak menjijikkan. Sepertinya saya akan bisa mencium darah dan aroma bahwa apa yang saya makan pernah bernyawa. Mohon maaf apabila deskripsi saya agak sedikit vulgar. Tapi itulah yang saya rasakan. Tak kurang akal yangti dan mama dalam usaha mereka mencekoki saya dengan daging. Daging memang bukan makanan utama bagi masyarakat Indonesia, tapi penting adanya untuk memakan nasi dengan lauk pauk serupa daging. Kalau kata uti, "Gimana sih, anak ini, orang tuanya bukan orang ga punya kok ngga mau daging?". Mama setuju dengan uti, dan selalu berusaha memasak segala macam makanan yang mengandung dedagingan. Fase ini saya sebut sebagai fase doktrinisasi bahwa daging adalah sumber kehidupan, puncak utama dalam piramida makanan.

Ketika saya tumbuh agak sedikit besar, mungkin sekitar berumur sembilan tahunan, saya mulai dikenalkan kepada yang namanya bakso. Waktu itu ada lagu anak-anak yang liriknya berbunyi: "Abang tukang bakso...mari kemari..." Jadilah saya termakan iklan tidak langsung itu. Bakso langsung resmi menjadi makanan berdaging pertama yang menjadi favorit saya. Bakso Stasiun Malang dan bakso 91 adalah dua jenis bakso yang saya konsumsi. Paling tidak seminggu sekali saya harus memamah bakso, tidak bisa tidak. Kalau tidak saya akan menangis dan menjerit, dan kedua orang tua saya lebih memilih untuk memasukkan bola-bola daging ke mulut saya daripada harus mendengar tangisan saya. Lagipula mereka senang anaknya sudah mau makan daging.

Kalau Batu itu kota Apel, maka Malang adalah kota Bakso. Ada berbagai macam jenis bakso yang bisa dijumpai di Malang. Mulai dari bakso kota, bakso solo, bakso stasiun, bakso bakar, bakso kikil, bakso kanji, bakso kelinci, sampai sate bakso. Karena itulah Malang adalah surga bakso. Tidak berlebihan, karena berbagai majalah ibukota telah sampai merasa itu penting untuk mengirim reporternya ke Malang dan memberikan ulasan mengenai bakso untuk kemudian dimuat di majalah mereka. Bukan main pesona sang bakso. Pada pertengahan tahun 2000an, sempat terhembus isu menggemparkan bahwa bakso-bakso yang ada dijual di kota itu mengandung bukan saja daging sapi murni, namun juga daging babi dan daging tikus. Mengerikan! Konsumen bakso pun sempat menurun, tapi tidak lama kemudian pamornya kembali naik. Dan Malang pun merajai posisi sebagai kota Bakso kembali.

Puluhan tahun berlalu dan kini saya berada di sebuah negeri di mana daging bukanlah lauk-pauk pelengkap sepiring nasi saja. Daging adalah menu utama, daging adalah sumber energi. Daging adalah pemberi kehangatan di kala musim dingin. Enak, negeri ini adalah surga pemakan segala. Namun justru terlalu banyak konsumsi daging menghadapkan saya pada ingatan di masa kecil, sebelum saya menjadi seorang omnivora yang bisa dengan tenang melahap berbagai jenis dedagingan. Saya mulai merasa ngeri terhadap apa saja yang ada di perut dan usus saya: daging sapi, kambing, lembu, ayam, kuda, kelinci, bekicot, unta, dan apa pun...Saya mulai merasa jijik terhadap segala bahan makanan yang dulunya pernah hidup.

Di musim gugur yang indah, dimana daun daun dalam aneka warna berguguran, saya menyempatkan diri menonton sebuah film dokumenter yang berjudul Food, Inc. Dalam kisahnya, si penutur film mengungkapkan rahasia mengapa banyak orang di negeri ini menderita kelebihan berat badan alias obesitas. Alih-alih menggunakan gula tebu, para produsen makanan memilih menggunakan gula jagung yang kandungan kalori dan macam-macamnya adalah sepuluh kali lipat dari gula biasa. Bayangkan saja, betapa berbahayanya. Mengapa hal ini terjadi? singkat kata, semua adalah hasil dari apa yang mereka sebut efektitifitas dan efisiensi pangan. Bukan hanya itu, yang berbahaya juga adalah dedagingan yang ada di pasaran. Semua nampak higienis karena dikemas dengan rapi. Tapi di balik itu semua, banyak salmonella yang bersarang di dalamnya. Mungkin saja tidak, karena amoniak putih yang mereka gelontorkan sebelum masa pengemasan telah berhasil membuat dedagingan itu awet seawet-awetnya. Belum lagi dedagingan terproses semacam kornet dan patty burger yang luar biasa kelezatannya, namun sesungguhnya mereka adalah gabungan dari berbagai macam daging dari mungkin sepuluh atau lebih hewan yang diproduksi oleh pepabrikan itu.

Bukan. Bukan peternakan ternyata yang menyuplai dedagingan ke supermarket-supermarket seantero negeri yang luasnya bagai satu benua Eropa ini. Namun perpabrikan, karena sapi-sapi, atau ayam-ayam, atau babi-babinya diproduksi dengan mutasi genetika tertentu, ditetaskan dengan perhitungan tertentu, yang mana mereka akan dapat tumbuh dengan lebih besar dan berdaging lebih empuk. Segala puji bagi Tuhan atas segala perkembagan teknologi umat manusia kini, dan semua yang memungkinkan kita dapat bertahan hidup di dunia walau harus bersaing dengan 6 juta umat manusia lainnya. Namun gambaran besar dari filem ini menunjukkan pada saya, betapa gilanya. Betapa umat manusia ini saking inginnya mengkonsumsi daging sampai harus bertindak seluar biasa ini.

Mendadak saya berontak. Saya mungkin harus berubah saat ini juga. Saya tak mau menjadi korban dari aturan yang mengatakan bahwa kalau saya mampu maka saya harus menunjukkannya dengan makan daging. Hanya yang kere lah yang layak hanya makan nasi, garam, dan tempe. Saya tidak ingin merasakan hembusan napas sapi-sapi, ayam-ayam, kambing-kambing itu mendengus ke dalam diri saya ketika saya mengunyah makanan. Yes, mungkin inilah waktu dimana saya harus menjadi vegetarian. Mungkin tidak harus menjadi vegetarian fundamentalis garis keras yang berkoar kesana kemari bahwa kita harus mencintai binatang. tapi paling tidak saya bisa mengurangi sedikit asupan daging.

Tapi bagaimana dengan bakso? Tak mungkin saya lepas dari bakso. Tak apalah hidup tanpa semur daging, gule kambing, ataupun sate ayam. Tapi hidup tanpa bakso? Bagaikan berkunjung ke San Francisco tanpa sempat melintasi Golden Gate, ataupun ke New York City tanpa berfoto di depan patung Liberty. Jadi saya tak tahu..apakah menjadi vegetarian, dan melupakan kenikmatan duniawi dalam setiap kunyahan berserat daging dari gumpalan bakso, akan sebanding dengan manfaat yang akan saya dapatkan nanti?

3 comments:

arihevea said...

Kangen makan Bakso Cak Man.. ama Bakso Presiden belakang Mitra II di malang sana...

*hiks

*lebih hiks lagi mo komen disini... pusing ngedengerin angka buat bisa komen..

Si Pemimpi said...

kata ian mackeye, musisi punk di washington yang menemukan kata straightedge buat anak-anak punk yang gak mimik, gak ngedrug, gak sex bebas, vegetarianism atau bahkan veganism itu merupakan konsekuensi logis dari straightedge.

dan pasti kamu tahu, marxism sekarang juga mengarah ke vegetarianism. kata seorang dosenku, marxisme yang intinya tidak menyakiti orang lain baik secara mental maupun fisik itu mau gak mau juga berkembang ke tidak menyakiti binatang dan ALAM (maka ecocriticism pun juga semakin banyak yang ngeklaim seiya sepenganggukan--iki frase temuanku dewe, embuh masuk opo ora--dengan marxisme).

kalau sempat youtube-an secara akut, hehehe..., sempatkan cari peter singer, seorang dosen marxist australia yang sejak tahun 90-an mempromosikan vegetarianism.

nah, kalau aku, pernah beberapa waktu di sini nyobak gak makan daging. cuman ikan-ikanan. tapi, jenenge wong indonesia, senengane nggawe gule, akhire ya... yo wis lah mengalir ae. hahaha... alias gak nolak... kan gak apik mengharamkan sing halal dan menghalalkan sing haram, hehehe...

tapi aku mengklaim diri sebagai straitedge plus, straitedge plus shahadat. halah...

nurenzia said...

@ ARIHEVEA: Loh..kenapa kok pusing ngedengerin angka? :)

@ Mas PEMIMPI:
Saya jadi merasa bagai katak dalam tempurung nih..harus lebih banyak membaca dan membaca lagi..soal straightedge yang saya belum begitu paham :)

veganism alias vegetarianism jika dilihat dr kaca mata marxism, hum, hal ini jadi semakin meninggikan kredit marxism di mataku.

omong punya omong, rasanya saya ga kuat jadi vegan. memang benar bung, jangan mengharamkan apa yang halal. nikmati wae....