Saturday, January 9, 2010

The Shadow Play

Ketika kita berada jauh dari negeri sendiri, segala hal yang berkaitan dengan negeri sendiri akan terasa eksotis dan terasa indah. Dulu saya termasuk orang yang sangat skeptis mengenai hal itu. Mana mungkin negara yang selalu penuh konflik dan pertikaian, yang headline korannya dipenuhi berita-berita yang hanya membuat gerah kepala, dan yang televisinya dihiasi berita-berita nggak penting tentang para artis blasteran, bisa dan layak dirindukan. Ndilalah, setelah hampir 500 hari (mungkin) berada di negara maju ini, segala keruwetan ala Indonesia merupakan satu hal yang selalu saya rindukan.
Bukan hanya itu, saya akhir-akhir ini merasa malu, karena rupanya banyak hal yang tidak saya ketahui tentang negeri dan budaya saya sendiri. Berawal dari kelas Southeast Asian Literature yang saya ambil bersama Prof. Mc. Ginn, saya pun mulai membaca beberapa lembar naskah wayang yang berjudul "The Reincarnation of Rama". Jujur, beberapa lembar awal terasa membosankan, namun yang terjadi kemudian adalah kekaguman yang luar biasa.
Cerita yang terkandung dalam setiap untaian versi wayang baik itu yang ada di Jawa atau Bali, India, Indonesia, atau negara Asia Tenggara lainnya, baik itu yang Ramayana ataupun Mahabharata, kesemuanya sungguh dahsyat. Tidak salah kalau Pak Mc.Ginn menyebutnya sebagai karya sastra yang paling hebat. Tentu saja mungkin mengalahkan trilogi Lord of the Rings.
Satu episode pendek pun diputarkan di kelas kami, video mengenai pertunjukan wayang di Jawa Tengah, dan bagaimana seorang dalang dituntut untuk mengetahui luar kepala skenario cerita, musik, tata panggung, dan juga setiap lekuk pada karakter wayangnya. Saya terkagum, dan berjanji dalam hati bahwa ketika saya kembali ke Indonesia nanti, saya harus menyempatkan diri menonton pertunjukan wayang secara langsung.
Maka perjanjian aneh dengan Ryo pun dilangsungkan: Kencan impian pada bulan November 2010 di halaman pendopo Kabupaten Malang. Menu utama: menonton wayang berdua.

0 comments: