Kerawang-Bekasi by Chairil Anwar
Kami yang kini terbaring antara Kerawang-Bekasi tidak bisa berteriak ‘Merdeka’ dan angkat senjata lagi
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan berdegap hati?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal hanyalah tulang diliputi debu
Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa
Kami sudah beri kami punya jiwa
Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan,
kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskanlah jiwa kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berilah kami arti
Berjagalah terus di garis batas kenyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Kerawang-Bekasi
There are still a lot of pains that remain. And also damn me, for not being able to even say the word correctly in the class today! All of these words were just rumbling in my head; colonize, kolonialisasi, colonial, kolonial, whatever...... but well yes, those people were laughing at me and that's fine for me to make people happy and less stressful. Somehow, it just reminded me about some important things that we might have forgotten as a nation. And yet, one can ask a question whether it's all still matter now? after witnessing how our own people harm the nation and all their own fellow-countrymen?

0 comments:
Post a Comment